Di bawah ini adalah kesaksian dari Odha yang tetap sehat walaupun tanpa ARV. Mereka adalah saksi hidup bahwa ARV bukanlah obat yang HARUS dikonsumsi oleh Odha dan ARV bukanlah obat yang meningkatkan kualitas hidup Odha. Justru tanpa ARV kondisi mereka makin baik dan normal.
Namun sayang, mereka yang berani bersaksi baru ada di luar negeri. Saya harap, muncul Odha-odha dari Indonesia yang bersedia memberikan kesaksiannya di Healindonesia, menceritakan bahwa mereka bisa sembuh dan hidup normal tanpa memakai ARV.
.
Kesaksian 1
Nama saya Chad dan saya ditest positif bulan July lalu. Saya sangat ketakutan selama seminggu sampai saya menemukan informasi berharga ini yang mengkonfirmasikan kecurigaan saya bahwa HIV tidak menyebabkan AIDS. Saya baru saja bertemu dengan dokter naturopathy (red: dokter holistik) kemarin dan setelah 6 bulan positif, dia mengatakan kalau saya saat ini lebih sehat berkat diet dan olah raga, serta pencarian spiritual 3 bulan lalu. Buku sangat bagus yang saya baca adalah ”Inventing the AIDS Virus” karya Deusberg. Ia adalah seorang virologist dari “The Other Side of AIDS”. Buku yang benar-benar bagus. Saya juga mendapat email respon balik dari dia menyampaikan rasa terima kasihnya dan mengijinkan saya untuk meng-emailnya kapan pun saya butuh dukungan. Sungguh berkesan! Jadi, inilah saya, berumur 28 tahun, masih muda dan kuat dan ingin seperti ini selalu.
Chad W.
Anda bisa mengirimkan saya email ke: chadwally@hotmail.com
.
Kesaksian 2
Saya telah berhenti dari ARV beberapa tahun yang lalu dan kesehatan saya terus naik sangat banyak! Lebih baik lagi, dokter saya sangat heran dimana sebelumnya ia mengatakan bahwa saya akan mati karena CD4 saya turun jadi 124. Tapi itu normal bagi saya dan setelah beberapa bulan, CD4 saya mulai naik. Dokter tidak akan melihat saya lagi sejak saat itu.
Denis
(Denis memiliki 2 website dalam bahasa Portugis. Satu web membahas tentang “mempertanyakan HIV dan AIDS”, http://sida.home.sapo.pt dan satunya membahas tentang mengatasi HIV secara alami, http://www.sida-luz-positiva.org)
.
Kesaksian 3
Nama saya Norman Sartor. Saya dulu didiagnosa dengan gejala AIDS di bulan Desember 1995 dimana CD4 saya adalah 51. Pada saat itu tidak ada test viral load dan di bulan Februari 1996, saya mulai memakai AZT, satu-satunya perawatan resmi dari Health Canada. Kemudian selama Lebih dari 10 tahun, saya mendapat ARV yang meliputi AZT, 3TC, Saquinavir, Zerit, Norvir, Viracept, Sustiva, Fuzeon, Viread and Kaletra.
Celexa, Septra, Marinol, Bactrum, Losec, Teveten, Pariet, Crestor, Lipitor, Welbutrin, Prozac, Hydrochlorothiazide dan Lorazepam, diresepkan ke saya untuk mengatasi efek samping yang ada yaitu berat badan turun, sariawan, keringat dingin di malam hari, jamur kuku, lipoatrophy, ruam saraf, dan anemia. Gejala fisik dan psikologis lainnya juga muncul.
Dengan Fuzeon, saya selalu mendapat suntikan 2 kali sehari, dan sesudah 10 tahun memakai ARV dan obat untuk lipoatrophy, lemak tubuh saya bertambah. Berulang-ulang muncul gejala ISR seperti kulit merah, pembengkakan, dan kulit mengeras. Saya berpartisipasi dalam uji klinis di bulan May 2005 yang disponsori oleh Canadian Immunodeficiency Research Collaborative untuk mengevaluasi penggunaan alat suntik Biojector® CO2 dibandingkan penggunaan jarum hypodermic standar. Lagi-lagi gejala ISR tetap muncul. Obat yang dipakai bersamaan dengan Fuzeon adalah Kaletra, Viread dan 3TC.
Setelah bertahun-tahun meneliti HIV/AIDS, nutrisi, dan satu dekade memakai ARV, pil-pil, serum, jarum suntik dan tembakan CO2, dan di atas semua itu, yaitu mengalami berbagai efek samping obat-obatan, kecuali kematian, saya pun akhirnya berhenti dari obat-obatan pada tanggal 16 Mei 2006. Mulai dari Agustus 2006 sampai dengan Januari 2007, terdapat penurunan 49% untuk viral load dan peningkatan 38% untuk sel CD4. Saat ini saya sudah lebih dari 1 tahun tanpa obat-obatan dan selama 1 tahun tersebut bisa menghemat $50.000 untuk biaya pengobatan karena hanya untuk Fuzeon saja bisa menghabiskan $2.650/bulan.
Saya pun beralih ke suplemen bulanan yaitu Selenium, NAC, Tryptophan dan L-Glutamine dengan biaya $100-$120. Hasil positif yang saya capai bukanlah suatu hal yang unik karena banyak Odha berhasil hidup normal tanpa obat-obatan.
Pengukuran viral load dan CD4, penandaan test darah yang digunakan untuk akses kesehatan dan penentuan terapi, tidak dirancang untuk orang yang sehat. Dalam 1 dekade memakai terapi ARV dan obat-obatan kimia lainnya, saya tidak dalam keadaan sehat. Saya mengalami tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi, fungsi hati yang tidak normal, serangan osteoarthritis, duodenitis, peripheral neuropathy, nocturia, lipoatrophy, serta hepatitis B yang berkembang ke grade 2. Sekarang kebanyakan efek samping telah mereda dan baru pertama kali ini selama 10 tahun, hati saya berfungsi dengan normal. (Setelah berhenti dari ARV dan obat-obatan kimia) hepatitis B saya sekarang jadi kondisi pre-existing dan tetap terkontrol dengan pola makan yang benar.
Ada banyak pendekatan yang lebih manusiawi dalam mengatasi HIV/AIDS dengan cara merawat kita dibandingkan merawat penyakitnya.
Norman S.
Anda bisa mengirimkan saya email ke: nsartor@sympatico.ca
.
Tiga kesaksian di atas diambil dari http://www.livingwithouthivdrugs.com . Dari 3 kesaksian di atas, saya harap para Odha bisa dikuatkan untuk tidak memakai ARV yang hanya akan memperbudak hidup dan memperparah kondisi tubuh Odha. Kesaksian mereka adalah penguatan dari artikel saya sebelumnya, “Hati-Hati! ARV Bukanlah Terapi yang Meningkatkan Kualitas Hidup”.
Serahkanlah hidup dan tubuh Anda yang berharga ke dalam pengobatan alami ciptaan Tuhan, bukan pengobatan kimia ciptaan manusia!
Stop penggunaan ARV, beralihlah pada alam! Inilah kehendak Tuhan untuk Anda!
Bagi Odha yang masih ragu atau ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai solusi HIV/AIDS secara alternatif, silahkan email saya di awan717@gmail.com atau menghubungi saya di 08174745269 / 0361 7969834.
Bagi Odha yang tinggal di Bali, Anda bisa mengatur janji temu dengan saya dan dengan senang hati saya akan membantu Anda.
Jika Anda sudah jelas dengan penjelasan artikel-artikel saya dan ingin mendapatkan resep alami untuk mengatasi HIV/AIDS, silahkan klik di sini.
.
Artikel Terkait:
Minyak Kelapa dan Urin Obat Alternatif untuk HIV/AIDS
Efek Samping Dari Obat AIDS “Tidak Berbeda” dari AIDS Itu Sendiri
Hati-Hati! ARV Bukanlah Terapi yang Meningkatkan Kualitas Hidup
Dr. Stefan Lanka Membongkar “Penipuan HIV”
.
“Menjual HIV/AIDS”
Artikel di atas adalah bagian dari buku “Menjual HIV/AIDS”, pertama di Indonesia yang mengungkap sisi kontroversial AIDS, membeberkan rahasia terlarang bahwa AIDS merupakan BISNIS MAHA BESAR. Buku ini mengungkapkan rahasia:- HIV bukanlah penyebab AIDS!
- HIV itu tidak ada! Gambar-gambar mikroskop elektron dari HIV yang ada sekarang adalah manipulasi komputer dan manipulasi kultur laboratorium.
- Jika HIV itu ada, ia tidak lebih ganas dibandingkan flu biasa!
- Test HIV selama ini tidak akurat! Jika Anda baru saja flu, demam, cacar, atau sedang hamil… Anda akan mendapatkan hasil test HIV yang positif padahal Anda tidak mengidap HIV.
- Yang membunuh Odha bukanlah HIV, tapi ARV/obat AIDS itu sendiri!
- Odha yang menolak ARV justru JAUH lebih sehat dan lebih menikmati hidup dibandingkan yang memakai ARV!
- Holistik modern bisa menyembuhkan AIDS!
- Dan hebatnya… Anda akan tahu, bagaimana menyembuhkan AIDS secara alami dan tanpa efek samping! Ya benar sekali… MENYEMBUHKAN… bukan SEKEDAR MERAWAT!!!

Hallo! Saya Dt. Awan, seorang Danton atau praktisi holistik modern Ananopathy yang mengobati berbagai penyakit dengan memanfaatkan Hukum Alam & sains modern. Lewat HI, saya mendedikasikan diri untuk mengungkapkan rahasia awet muda, susah sakit, dan panjang umur kepada masyarakat awam serta melindungi Anda dari kejahatan bisnis dunia medis konvensional.
5 comments
Comments feed for this article
26/05/2009 pada 11:20 am
Muhammad Yusuf
Nama Saya Muhammad Yusuf. Saya adalah penggagas, penyusun, dan koordinator program Islam Therapy, yaitu program Komprehensif Internasional untuk menanggulangi bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan Gangguan Jiwa berbasis ajaran Islam (Konsep Pertama di Dunia).
Saya adalah ODHA tanpa ARV. Tapi pada kesempatan ini, saya ingin menceritakan kisah ketika saya menjadi perawat rekan sebaya untuk teman saya yang kini telah meninggal dunia.
ketika saya bertemu teman saya, sebut saja Mr. X, dia masih menggunakan ARV dan tubuhnya rusak parah. kulitnya seperti melepuh dengan badan kurus kering (wasting).
Mr. X ikut program Islam Therapy. dia dibekam (cupping metode), diruqyah (healing words), diberi Habbatussauda (nigella sativa), dan ikut program I’tikaf di masjid bersama jemaah Tabligh.
Tanpa kami duga, tiba2 dia menyatakan bahwa dia lepas ARV padahal kami melarangnya. juga di luar dugaan kami, kesehatannya meningkat begitu cepat. tubuhnya gemuk, kulitnya kembali normal, CD4 nya naik. Dokter yang menangani para ODHA juga heran dengan perkembangan kesehatannya terutama Mr. X sudah setahun lebih lepas ARV tapi belum mati padahal, kata dokter, ODHA dua minggu lepas ARV pasti mati.
Mungkin karena merasa sehat, Mr. X meninggalkan program Islam Therapy. Mr. X jarang dibekam dan lepas Habbattusauda. Dia terlalu menghambur-hamburkan tenaga dan pikiran karena dia adalah koordinator KDS kami.
Akhirnya Mr.X terjebak dalam banyak hal yang membuatnya stress, demikian pula saya yang meninggalkan program Islam Therapy karena begitu banyak masalah yang saya hadapi. ketika itu kami Relapse (kambuh). kami kembali mengkonsumsi narkoba.
Pola hidup Mr. X kian tak karuan. dalam satu hari, dia mengendarai motor keluar kota bolak-balik. dia pun jatuh sakit dan dibawa ke dokter. setelah mendapat pengobatan dari dokter, dia merasakan sekujur tubuhnya panas. untungnya rasa panas di tubuhnya berkurang setiap saya melakukan akupressur (pijat tangan). saya yang merawatnya juga menjadi tempat curhat.
kemudian Mr. X dibawa ke dokter yang lain dan dokter tersebut mengatakan bahwa yang membuat sekujur tubuh Mr. X panas adalah obat dosis tinggi yang diberikan oleh dokter sebelumnya. obat inilah yang membuat liver Mr. X rusak parah. memang sebelum ke dokter yang dulu, Mr. X cek ke lab dan livernya bagus. namun ketika dicek lagi atas anjuran dokter yag baru, hasilnya membuat kami semua termenung. kami memiliki prediksi yang sama. saya pikir, apa yang dicurhatkan oleh Mr. X kepada saya tak lama lagi menjadi kenyataan…
Mr. X dibawa ke beberapa Rumah sakit di kota kami dan akhirnya dibawa ke Rumah sakit Bungsu, Bandung. saya tidak bisa menemani Mr. X selama di RS. namun tiba2 saya disuruh ikut pelatihan ke Bandung yang diselenggarakan oleh Bandung Plus Support. tentu saja kami langsung menuju ke RS Bungsu karena pelatihan dimulai keesokan harinya.
kami tiba di RS Bungsu pukul 21.00 WIB ketika Mr. X sedang sekarat. saya datang langsung ke sisinya untuk menuntunnya membaca kalimat la illaha ila Allah. Tak berapa lama kemudian, dia menghembuskan napas terakhirnya setelah mengucapkan kalimat la illaha ila Allah yang dituntun oleh kakeknya yang sangat disayangi oleh Mr. X.
Program Islam Therapy untuk menanggulangi HIV/AIDS adalah apa yang saya dapatkan dari pengalaman hidup bersama Mr. X. Saya bertekad untuk meneruskan perjuangannya, yakni HIV Stop With Me..
26/05/2009 pada 11:38 am
Awan
Thx a lot utk sharing nya Pak Yusuf. Saya bersyukur ada Odha Indonesia yg mau share secara publish utk bisa menguatkan Odha lainnya tanpa ARV.
Tuhan memberkati!
20/06/2009 pada 4:24 am
Alfred
Wah Fakta yang menggemparkan mas…terimakasih
bisa diberitahu lebih lanjut mengenai sumber-sumber artikel mas ini…terimakasih sebelumnya mas…salam hangat ^_^
20/06/2009 pada 2:15 pm
Awan
Terima kasih Saudara Alfred,… spt yg tertulis di artikel. Sumber kesaksian ini bs di lihat di link: http://www.livingwithouthivdrugs.com
Thx
23/10/2009 pada 5:02 pm
james
Pak awan..
Ibu saya sempat membantu merawat ODHA mantan TKW
ODHA tersebut sudah 5 tahun dengan HIV. CD4 nya sekitar 90.
kondisinya sudah sangat parah…
Namun, mungkin mukjizat tuhan, hanya dalam 3 minggu CD nya naik drastis mendekati angka 1000 (hanya dalam 3 minggu).
namun, ketika di test masih positif. sampai sekarang pun msh positif, walaupun kesehatannya msh sngt baik smp sekarang
Pengobatannya sederhana, cuma terapi dzikir dan sholat (maaf, saya tidak mau menyebut agama ttt).
Pasien hanya di minta keyakinannya akan sembuh.
Kini pasien sudah punya anak negatif dan hidup sehat dan normal