Kebenarannya adalah AZT, ddI, ddC , penghambat protease (protease inhibitors) dan obat-obatan lainnya yang disebut “antiretrovirals” tidak pernah didapati di studi terkontrol manapun yang membuktikan adanya manfaat klinis teruji terhadap para pasien AIDS. Satu-satunya studi terpublikasikan yang mengklaim adanya hasil positif hanyalah bersifat sementara dan tidak memiliki hasil statistik yang signifikan. (1)
Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat cukup banyak bukti bahwa obat-obatan ini telah diketemukan dapat menyebabkan gejala-gejala yang sebenarnya ingin disembuhkan. Lebih dari 500 Medical Doctor dan atau Ph.D. telah menandatangani suatu pernyataan yang mengajak untuk diadakannya penilaian kembali bagi penyebab AIDS dan mempertanyakan apakah gejala-gejala yang ada benar-benar disebabkan oleh HIV.
Walaupun “antiretroviral” lebih baru seperti ddC, ddI, dan d4T memiliki mekanisme analisator aksi dan toksisitas yang sama dengan AZT, mereka belum pernah diteliti secara ekstensif dan dengan demikian tidak didiskusikan secara detail seperti halnya penelitian-penelitian yang ditekankan di bawah ini.
1) Tulisan Pembukaan Glaxo mencantumkan peringatan berikut dengan huruf kapital besar dan tebal di awal bagian Physician’s Desk Reference edisi tahun 1998 yang mendeskripsikan AZT (merek Retrovir atau Zidovudine).
“RETROVIR (ZIDOVUDINE) BISA MENGAKIBATKAN TOKSISITAS HEMATOLOGI BERAT TERMASUK GRANULOCYTOPENIA DAN ANEMIA BERAT YANG TERUTAMA SEKALI ADA PADA PASIEN DENGAN HIV TINGKAT LANJUT (LIHAT PERINGATAN). PENGGUNAAN RETROVIR SECARA TERUS MENERUS JUGA BISA MENGAKIBATKAN SYMPTOMATIC MYOPATHY SERUPA DENGAN YANG DIHASILKAN OLEH HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS.”
Ijinkan saya untuk menerjemahkannya ke bahasa yang lebih mudah dimengerti. “Granulocytopenia”, yang juga disebut “neutropenia” artinya sel penting dari sistem imun, yaitu neutrophil, telah berkurang, bersamaan dengan sel-sel lainnya, eosinophil dan basophil, yang jumlahnya lebih sedikit tapi masih penting.
Kondisi ini bisa ringan, sedang, atau bahkan berat. Catatan klinis atas neutropenia berat dalam Pathologic Basis of Disease karangan Robbins (5th Ed.), dimana dipakai oleh kebanyakan sekolah kedokteran yang mempelajari patologi, memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi pada pasien penderita neutropenia berat.
CATATAN KLINIS: Gejala dan tanda-tanda dari neutropenias adalah adanya infeksi bakteri … Dalam kasus agranulocytosis berat dengan kondisi tidakadanya neutrophil, infeksi-infeksi ini bisa sangat beraneka macam sampai menyebabkan kematian dalam hitungan hari. “ (Robbins, p.631).
Hal ini terdengar sangat mengganggu sama dengan deskripsi AIDS. Robbins juga menyatakan, dalam huruf bercetak miring, bahwa “bentuk umum dari neutropenia berat adalah dikarenakan obat-obatan.” Apa yang tidak disebutkan di buku teks manapun adalah bahwa AZT telah didapati dalam lima penelitian (sesudah adanya ketergesa-gesaan FDA dalam memberikan perizinan atasnya) ternyata beracun bagi sel T, sel yang ketidakhadiranya dianggap disebabkan oleh karena HIV.(2) Hal ini tidaklah mengejutkan sejak sel T dan semua sel lainnya diproduksi di dalam sumsum tulang telah berkurang karena AZT. AZT pada awalnya meningkatkan produksi sel T sebagai respon sistem kekebalan tubuh terhadap racun yang ada dari AZT, tapi dalam waktu yang cukup singkat, sel T, neutrophil, dan sel sistem kekebalan lainnya mulai berkurang.
2) Satu contoh dari penelitian yang mendokumentasikan pengaruh AZT atas sistem imun manusia telah dipublikasikan di the Annals of Hematology. (3)
AZT telah diberikan ke 14 pekerja kesehatan yang secara tidak sengaja terkontaminasi darah HIV dari jarum suntik. Penelitian seperti ini sangatlah penting karena toksisitas yang terjadi tidak bisa dipersalahkan ke HIV sebagai penyebabnya, seperti yang terjadi pada orang yang positif HIV. Setengah dari 14 orang tersebut akhirnya harus berhenti mengkonsumsi AZT karena efek samping toksisitasnya yang berat, dan penelitianpun dihentikan lebih awal supaya tidak terjadi kerusakan lebih fatal lagi. Neutropenia (seperti telah dijelaskan di atas) berkembang pada 36% (4 dari 11) orang yang memakai perawatan dengan AZT selama 4 minggu.
3 dari 14 orang bahkan tidak bisa mencapai 4 minggu oleh karena “gejala subyektif yang berat”. Satu pekerja harus segera dihentikan memakai AZT karena neutropenia dia terlihat begitu berat sehingga dia mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas.
Apa yang menarik dari penelitian ini adalah efek samping dari AZT muncul hanya dalam waktu 4 minggu, sementara pasien dengan status “positif HIV” seringkali menggunakan AZT dan obat-obatan serupa lainnya selama bertahun-tahun. Dosis pemakaian AZT dalam gabungan dengan ARV lainnya seringkali lebih kecil, yang menyebabkan gejala yang nampak jadi terlihat lebih kecil jika dibandingkan memakai AZT saja.
3) Sebuah artikel di the New England Journal of Medicine (4) memperhatikan pengurangan otot (muscle wasting) sebagai akibat dari pemakaian AZT dan membandingkannya dengan pengurangan otot yang biasa disebut sebagai “myopathy”, diduga diakibatkan oleh HIV. Komentar mereka terhadap perbandingan tersebut adalah: “Kami menyimpulkan bahwa terapi jangka panjang dengan Zidovudine dapat mengakibatkan keracunan mitochondrial myopathy, dimana… gejalanya tidak bisa dibedakan dengan myopathy yang berhubungan dengan infeksi HIV…”.
Tulisan Robbin mengenai patologi juga berisi bagian yang menjelaskan tentang mitochondrial myopathy, menyatakan bahwa pengurangan otot jenis ini meyebabkan kelemahan fisik yang berat. Dalam tulisannya juga menyebutkan bahwa “kelompok ini bisa juga diklasifikasikan sebagai mitochondrial encephalomyopathy.” Encephalomyopathy, dalam bahasa gampangnya berarti kerusakan yang menyebar pada otak dan sumsum.
4) “HIV Dementia”: Walaupun kebanyakan penelitian restrospektif belum menemukan hubungan AZT dengan “HIV dementia”, penelitian-penelitian ini tidaklah terkontrol dan dengan demikian membuka terhadap berbagai kemungkinan dan penyimpangan. Satu penelitian yang terkontrol lebih baik berhasil menemukan bahwa “HIV dementia” terjadi 2 kali lebih besar pada orang yang memakai AZT. Dalam penelitian ini, seperti yang terpubliksikan journal Neurology (5), si pengarang menyatakan:
“diantara para subyek dengan sel CD4+ berjumlah < 200/mm3, resiko untuk berkembangnya HIV dementia di antara mereka yang dilaporkan memakai antiretroviral (AZT, ddI, ddC, or d4T) ternyata 97% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memakai terapi antiretroviral”
Penelitian-penelitian tersebut juga membahas mengenai sensory neuropathy, atau kemerosotan syaraf rasa:
“Sebagai tambahan, hasil temuan dari analisa kami sepertinya mengkonfirmasi pengamatan sebelumnya mengenai pengaruh beracun antiretroviral terhadap syaraf. Banyak penelitian telah menghubungkan pemakaian ddI, ddC, dan d4T dengan perkembangan racun atas sensory neuropathy, biasanya dalam dosis tertentu.”
Penelitian-penelitian ini merupakan contoh dari bukti yang menunjukkan bahwa AZT dan antiretroviral lainnya yang dipakai sebagai terapi tunggal atau sebagai bagian dari gabungan terapi ARV dapat menyebabkan gejala-gejala yang serupa dengan AIDS yang kemudian mengkambinghitamkan HIV sebagai penyebabnya. Sialnya, keyakinan mengenai HIV begitu kuatnya sehingga banyak dari peneliti kemudian akhirnya mensuport penggunaan obat-obatan.
Perkecualian yang perlu diperhatikan adalah penelitian dari Pharmacology and Therapeutics, dimana memberikan kritik yang tegas dan seksama (2).
Fakta lain yang menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kemungkinan HIV yang menyebabkan infeksi adalah fakta bahwa walaupun USD 45 juta telah dikeluarkan sebagai dana penelitian, para ilmuwan tetap tidak bisa mengetahui bagaimana HIV menghancurkan sel T. Tentu saja demikian, ini dikarenakan HIV tidak menghancurkan sel T di tabung lab dan juga tidak pernah terbukti menghancurkan sel T di dalam tubuh manusia.
Dalam sebuah konferensi di tahun 1997, seperti yang dilaporkan pada jurnal Science, fakta ini telah diperjelas sebagaimana teori yang dikemukakan oleh David Ho memiliki kekurangan yang cukup serius. Seperti yang dinyatakan dalam artikel Science “Sampai sekarang misteri utama AIDS tetap tak terungkap, yaitu: Bagaimana HIV menyebabkan hilangnya sel T secara besar-besaran… yang merupakan tanda utama dari AIDS?”
Seorang immunologist dari Harvard Medical School, seperti tertulis dalam artikel tadi, meringkas permasalahan tersebut sebagai berikut: “Kami masih bingung mengenai mekanisme yang membuat berkurangnya sel T, tapi setidaknya sekarang kami bingung pada tingkat yang lebih tinggi lagi terhadap pemahaman kami sendiri.” (6). Sebenarnya, penjelasan sederhana dari permasalahan ini adalah (terutama sesudah dihabiskannya dana USD 45 juta) bahwa HIV tidak berefek pada sel T sama sekali.
.
PENJELASAN SEBENARNYA DARI PENYEBAB AIDS
Didasarkan pada bukti-bukti di atas, bisa dibuat suatu argumen bahwa apa yang kita sebut AIDS sebenarnya adalah penggenapan ramalan oleh diri sendiri (self-fulfilling prophecy) yang bisa saja terjadi sebagai berikut:
a) Tekanan psikologis akut yang berat karena didiagnosa “positif HIV”, telah bertransformasi dengan cepat menjadi tekanan psikologis kronis mengenai prediksi masa depan hidup dengan kesehatan yang makin menurun dan adanya penyakit infeksi yang bisa terjadi kapan saja. Stres seperti ini akan mengakibatkan bahaya menurunnya sistem imun.
Menurunnya sistem imun oleh karena tekanan psikologis telah didokumentasikan dengan baik oleh beberapa penelitian ilmiah dan juga merupakan hal yang pasti terjadi pada kebanyakan orang (7). Disamping itu, orang-orang biasanya ditest untuk HIV pada saat masalah kesehatan mulai muncul, sehingga tekanan psikologis karena terdiagnosa “positif HIV” pun makin menambah parah penyakit yang telah ada sebelumnya.
Secara alami, penyakit-penyakit karena pikiran ini bisa kronis dan berat. Tidak mesti harus ada penyakit parah sebelumnya baru muncul penyakit pikiran ini. Penyebab penyakit seperti ini (karena tekanan pikiran) telah diteliti pada orang-orang sehat dimana mereka juga bisa menciptakan suatu kondisi turun dan rusaknya sistem imun yang akhirnya disebut “AIDS”.
b) Sekali ditest positif, orang tersebut seringkali diberi antibiotik dengan dosis tinggi dan untuk jangka panjang, dan bisa juga ditambah dengan antiretroviral, sebagai standar pencegahan atau perawatan terhadap HIV.
Antibiotik yang diberi seringkali memiliki efek samping melemahkan yang akhirnya dipersalahkan sebagai akibat dari HIV, termasuk menurunnya sistem imun. Dan lebih lagi, antibiotik mengakibatkan matinya bakteri menguntungkan yang melindungi kita. Tingkat keseimbangan yang normal antara bakteri menguntungkan dan merugikan dalam perut kita dan daerah lainnya adalah salah satu faktor terpenting dalam melindungi tubuh dari infeksi (8).
Puncak dari ini semua, antibiotik seringkali juga menyebabkan kebalnya bakteri, jamur dan virus terhadap berbagai macam obat.
c) Sekali sistem imun telah turun oleh karena tekanan emosional (atau kekhawatiran pikiran) yang terus menerus terjadi, penyakit yang pernah diderita sebelumnya (jika pernah ada) dan melemahnya tubuh membuat diagnosa AIDS menjadi positif.
Setelah itu, orang tersebut akan mulai diberi resep “antiretrovirals (ARV)” yang pasti dan permanen, dimana efek sampingnya telah saya jelaskan di atas. Makin banyak jumlah orang yang diberi resep ARV padahal mereka masih sehat dan tidak terdiagnosa AIDS.
d) ARV dianjurkan kepada pasien sampai dia meninggal. Ini karena adanya teori bahwa HIV bisa kebal dan berkembang jika mereka lalai mengkonsumsi ARV.
Pasien yang meninggalkan prawatan ARV secara teori akan menjadi ancaman publik karena mereka bisa menginfeksi orang lain dengan “HIV yang bermutasi”. Demikianlah, disamping mempertimbangkan kesehatannya sendiri, pasien memiliki tanggung jawab sosial yang besar sehingga mengakibatkan dia untuk tetap mengkonsumsi ARV.
Tidak peduli akan betapa berbahayanya efek samping dari ARV, pasien dengan keras dianjurkan untuk tidak pernah luput mengkonsumsi 1 pil pun. Namun ketika kesehatan pasien makin memburuk, keadaan tersebut dipersalahkan pada mutasi HIV sebagai penyebabnya dan juga karena “kelalaian” pasien. Sangat jarang infeksi atau permasalahan kesehatan yang ada dikatakan oleh karena efek samping dari ARV.
Beberapa orang tampaknya memiliki respon yang baik (tapi sementara) terhadap ARV. Apa sebabnya masih belum jelas, tapi bisa saja berhubungan dengan:
1) ARV langsung bereaksi pada pathogen yang ada termasuk pathogen yang dianggap HIV.
2) Zat beracun dari ARV telah menstimulasi keluarnya sel T dari sumsum tulang, sebelum akhirnya malah menghabiskan sel T dan menyebabkan turunnya sel imun dan anemia. Awal naiknya jumlah CD4 pada kasus ini diartikan oleh dokter sebagai membaiknya fungsi imun/kekebalan tubuh.
3) Berkurangnya tekanan psikologis sehingga pasien bisa tenang adalah karena keyakinan yang kuat bahwa ARV yang telah dikonsumsi adalah “penyelamat”. Dan ini seringkali diperkuat dengan hasil lab yang menunjukkan meningkatnya jumlah CD4 dan menurunnya “viral load”, dimana ini bukanlah tanda yang pasti akan membaiknya kesehatan.
Beberapa penelitian ilmiah yang berusaha untuk mendokumentasikan efek positif dari protease inhibitor (PI) gabungan, selalu berakibat tidak baik. Tiap sukarelawan selalu harus stop lebih dini ditengah-tengah penelitian. Ini membuat penelitian-penelitian yang ada tidak bisa menemukan manfaat yang sesungguhnya dari terapi PI gabungan dan penelitian pun tidak pernah selesai.(1)
Sebagai tambahan, group placebo terkontrol diberikan 2 ARV tanpa protease inhibitor. Jika ARV merupakan bagian dari permasalahan yang ada, maka group placebo terkontrol ini tidak akan memperlihatkannya. Menghentikan percobaan terlalu dini terjadi pada kasus monoterapi AZT, sampai akhirnya uji coba Concorde berhasil menyelesaikannya tapi dengan angka kematian dan efek samping berat yang makin banyak di group yang mendapatkan AZT.
Group lainnya, dimana sukarelawan hanya diberikan AZT sesudah didiagnosa positif AIDS, memiliki angka kematian 25% lebih sedikit. Semua 172 sukarelawan uji coba Concorde yang meninggal telah diberikan AZT kecuali 3 sukarelawan. Untuk detail diskusi dari uji coba Concorde, silahkan melihat referensi (1)(9)(10).
Pemikiran bahwa HIV yang bermutasi bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan telah disangkal total oleh penelitian David Rasnick, yang mempublikasikan hasil penelitiannya di the Journal of Biological Chemistry. (11). Dengan demikian, penurunan kesehatan pada kebanyakan pasien BUKAN disebabkan oleh HIV yang bermutasi. Jawaban yang lebih sederhana dan tepat adalah efek samping obat-obatan yang menyebabkannya, seperti yang telah dibeberkan dengan jelas di atas.
.
Referensi:
1) Lancet; 1998: Volume 352; Supplement 5.
2) These studies of T-cell damage are part of a comprehensive discussion of the extreme toxicity of these drugs. Pharmacology and Therapeutics 1992; Volume 55: 201-277.
3) Annals of Hematology 1994; Volume 69: 135-138.
4) New England Journal of Medicine. 1990; 322(16) : 1098-1105.
5) Neurology. 1994;Volume 44: 1892 -1900.
6) Science. November 21, 1997; 278: 1399-1400.
7) Ader R, Felten DL & Cohen N. Psychoneuroimmunology. Second Edition. San Diego: Academic Press, 1991
8) Kolliadin V., DESTRUCTION OF NORMAL RESIDENT MICROFLORA AS THE MAIN CAUSE OF AIDS, Aug. 1996 http://www.virusmyth.com/aids/data/vkmicro.htm
9) New England Journal of Medicine 1992; 326: 437-443
.
NOTAIDS, December 12, 2006, Oleh Dr. Joseph Mercola
Jika Anda tertarik untuk mendapatkan resep untuk mengatasi HIV/AIDS secara alami dan tanpa efek samping, silahkan klik di sini!
.
Artikel Terkait:
Apakah Test HIV/AIDS Sekarang Ini Akurat?
Minyak Kelapa dan Urin Obat Alternatif untuk HIV/AIDS
.
“Menjual HIV/AIDS”
Artikel di atas adalah bagian dari buku “Menjual HIV/AIDS”, pertama di Indonesia yang mengungkap sisi kontroversial AIDS, membeberkan rahasia terlarang bahwa AIDS merupakan BISNIS MAHA BESAR. Buku ini mengungkapkan rahasia:- HIV bukanlah penyebab AIDS!
- HIV itu tidak ada! Gambar-gambar mikroskop elektron dari HIV yang ada sekarang adalah manipulasi komputer dan manipulasi kultur laboratorium.
- Jika HIV itu ada, ia tidak lebih ganas dibandingkan flu biasa!
- Test HIV selama ini tidak akurat! Jika Anda baru saja flu, demam, cacar, atau sedang hamil… Anda akan mendapatkan hasil test HIV yang positif padahal Anda tidak mengidap HIV.
- Yang membunuh Odha bukanlah HIV, tapi ARV/obat AIDS itu sendiri!
- Odha yang menolak ARV justru JAUH lebih sehat dan lebih menikmati hidup dibandingkan yang memakai ARV!
- Holistik modern bisa menyembuhkan AIDS!
- Dan hebatnya… Anda akan tahu, bagaimana menyembuhkan AIDS secara alami dan tanpa efek samping! Ya benar sekali… MENYEMBUHKAN… bukan SEKEDAR MERAWAT!!!

Hallo! Saya Dt. Awan, seorang Danton atau praktisi holistik modern Ananopathy yang mengobati berbagai penyakit dengan memanfaatkan Hukum Alam & sains modern. Lewat HI, saya mendedikasikan diri untuk mengungkapkan rahasia awet muda, susah sakit, dan panjang umur kepada masyarakat awam serta melindungi Anda dari kejahatan bisnis dunia medis konvensional.
7 comments
Comments feed for this article
05/10/2008 pada 1:18 am
DB
Bagaimana Anda menyembuhkan Pasien HIV dan AIDS Anda bila mereka tidak diberikan pengobatan HAART tersebut ?
Bagaimana dgn mereka yg sudah menggunakan HAART / ARV apabila kondisi T-cell mereka ( CD4 ) sudah meningkat, apakah Anda rekomendasika mereka untuk menghentikan AZT, 3CT, dll ?
Bukankah efeknya fatal ?
Apakah ada pengganti HAART yang alami dan terbukti ampuh menyingkirkan virus2 tersebut secara taktikal ?
Mungkin mereka diberika HAART hingga CD4 mencapai nilai tertentu, lalu dengan credential tersebut, HAART dihentikan, lalu di intensifkan Urine Terapi dan VCO, juga untuk pencernaan (Gastro-intestinal) dan pertumbuhan sel mereka diberikan Spirullina dosis tinggi ?
Bukankah AntiOksidan L-Glutathione yang dijual bebas di GNC, Guardian juga merupakan salah satu bahan dasar cocktail HAART pills tersebut ?
Trims n GBU.
06/10/2008 pada 9:01 am
Awan
Problema kt pd AIDS adl melihat suatu masalah pada gejalanya saja. Kt lupa utk terus menggali akar dr suatu permasalahan.
Bertentangan dg paradigma konvensional, HIV tdklah mematikan. Yg mematikan adl obat2an utk Odha, termasuk HAART. Efek samping mematikan dari HAART bs dilihat dr link berikut:
http://www.virusmyth.com/aids/hiv/dchaart.htm
Kt tdk perlu khawatir suatu virus akan mematikan Odha. Tdk, yg perlu dikhawatirkan adl obat2an yg terus menerus dikonsumsi oleh Odha. Jadi penggunaaan HAART dan Cocktail lainnya hrs di stop. Efeknya tdk fatal kok, malah lbh baik daripada meminum “racun”.
Fokus berikutnya adl bagaimana MEMULIHKAN KEMBALI organ2 yg telah rusak begitu jg dg sistem imun itu sendiri. Ini berarti kt memakai alam utk menyembuhkan alam yg rusak yaitu tubuh kita. Kt memakai alam ciptaan Tuhan yg lebih manjur dan aman utk memulihkan alam kecil yg rusak.
Bagaimana aplikasi utk menyembuhkan AIDS itu tergantung dr tiap2 Odha. Tiap Odha memiliki kasus tersendiri berarti terapi alami yg diterapkan jg berbeda-beda.
Terapi alami pengganti HAART ada bnyk & tergantung kasus tiap2 Odha, misal: VCO, urine, tanah liat, minyk ikan, diet, juice, terapi matahari, terapi garam, herbal, L-Glutathione, self hipnitist, dsbnya dan mereka dipakai secara “cocktail” jg.
Jadi, tiap terapi alami ini tdk bs disamaratakan semuanya. Tergantung keadaan dr Odha.
Info ttg terapi alami utk AIDS bs dilihat di link berikut:
http://www.shirleys-wellness-cafe.com/aids_healing.htm
Mungkin Bapak perlu ingat dg artikel di web ini yg menceritakan ttg seorang pasien HIV/AIDS bernama Chris Dafoe, tinggal di Cloverdale, Indiana, Amerika, merasa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, tp akhirnya sembuh stlh mengkonsumsi diet penuh dg kelapa. Linknya ada di berikut ini:
http://healindonesia.wordpress.com/2008/09/06/minyak-kelapa-dan-urin-obat-alternatif-untuk-hivaids/
Bahkan ada jg terapi Ozone yg sdh menyembuhkan dlm lbh dari 300 kasus:
http://www.whale.to/v/mccabe.html
AntiOksidan L-Glutathione-nya tdk masalah, tapi yg bermasalh adl bahan kimia lainnya termasuk ARV.
Jika ingin bukti, silahkan referensikan 1 Odha kpd saya yg Anda kenal baik utk contact dg sy via email, bs dg nama samaran. Tdk perlu tatap muka langsung. Sy akan bantu dia utk mendptkan pemulihan dg cara Tuhan, bkn cara manusia.
15/12/2008 pada 1:56 pm
lonte
yang nyebabin full blown to AIDS mungkin HAART itu sendiri ya?….tambah tekanan psikologis penderita akibat iklan-iklan negatif ttg AIDS…hehehe… biasa ada iklan terselubung industry farmasi paman sam kale……
12/05/2009 pada 2:54 pm
ODHA Bingung
Mas …. setelah saya baca jawaban koment mas di atas yang tentang rekomendasi kan ODHA kepada anda…. Saya merekomendasikan diri saya mas….
Untuk sekedar info : saya minum ARV Duviral 2 x 1 (pagi dan malam) dan Efavirent 1x (malam saja).
Selain itu saya saat ini masih ikut teraphy methadone juga dengan dosis 100ml (setiap pagi).
Bagaimana mas kalo saya merekomendasikan diri saya ????
(*Sangat Serius nih mas…..*)
NB: kalo emang bisa… biar saya saja yang e-mail mas awan…. saya takut meninggalkan email saya disini.
12/05/2009 pada 10:48 pm
Awan
Utk ODHA Bingung,
Saya bersedia membantu Anda, tapi saya perlu data lebih lengkap lagi dari Anda supaya sy bs mendiagnosa dan memberikan resep dengan tepat. Jika Anda ingin merahasiakan data2 Anda dari publik, silahkan melengkapi Formulir Data Pasien di link:
https://spreadsheets.google.com/viewform?formkey=cFVRZHo2UFBWSkM1TnNuaGxjb3RlZnc6MA..
Data2 yg Anda submit di link tsb tdk akan terlihat secara publik, tapi langsung masuk ke email Administrator Healindonesia.
Jika lokasi Anda di Jakarta, saya anjurkan utk datang secara pribadi dan menghubungi Bapak Agus di Yasar Nurma Foundation, d/a:
Jln. KH. Hasyim Ashari No. 44, Kec. Pinang 15145, Tangerang – Jakarta
Telp. & Fax. No. : +62 21 554 5065, GSM No. 088 1882 7289, Email : yasar.nurma@yahoo.co.id
Pak Agus ini sangat ahli dalam menangani kasus2 HIV/AIDS secara holistik. Beliau adl rekan saya di Jakarta. Thx
14/05/2009 pada 3:06 am
Odha Bingung
OK mas….
thanks banget mas…. soalnya terus terang saja aku udh merasa capek harus minum obat ini, dan selalu ada perasaan bersalah apabila waktu minum obatnya terlewat walaupun itu sedikit terlewat.
saya minum obt ARV sudah sejak 2003.
saya langsung isi formulir data pasien di link diatas ya mas….
sekali lagi saya ucapkan Terima Kasih….
14/05/2009 pada 3:44 am
Odha Bingung
mas aku udh isi data – data pasiennya ya mas…..